Blog
Sejarah Negara Mauritius
Sejarah Negara Mauritius

Latar Belakang Sejarah Mauritius

Mauritius adalah sebuah negara kepulauan yang terletak di Samudra Hindia, sebelah barat daya benua Afrika. Negara ini memiliki sejarah yang kaya dan bermacam-macam pengaruh budaya dari berbagai bangsa yang pernah mendiami pulau ini. Sejarah Mauritius dimulai pada abad ke-10 ketika penduduk asli pulau ini, yaitu suku orang-orang Austronesia, tiba di sana dari kepulauan Indonesia. Pada abad ke-16, bangsa Portugis menjadi bangsa Eropa pertama yang mengunjungi Mauritius dan memberikan nama pulau ini sebagai "Ilha do Cirne" (Pulau Burung Dodo). Namun, mereka tidak mendirikan koloni permanen dan selama beberapa tahun berikutnya, pulau ini menjadi tempat persinggahan para pedagang dan bajak laut.

Pada awal abad ke-17, Belanda menjadi bangsa Eropa kedua yang mengunjungi Mauritius. Mereka memberikan nama pulau ini sebagai "Mauritius" sesuai dengan nama Pangeran Maurice dari Nassau yang merupakan pemimpin mereka saat itu. Belanda mendirikan koloni pertama di Mauritius dan mengembangkan produksi gula sebagai komoditas utama. Namun, mereka juga mengusir penduduk asli dan memperbudak orang-orang Afrika untuk bekerja di perkebunan gula mereka. Pada tahun 1710, pulau ini diberikan kepada Perusahaan Hindia Timur Belanda oleh pemerintahan Belanda. Namun, pada tahun 1715, perusahaan tersebut menyerahkan Mauritius kepada Perusahaan Hindia Timur Prancis dan memfokuskan diri pada perdagangan rempah-rempah di benua Asia.

Perkembangan dan Peristiwa Penting di Mauritius

Pada tahun 1721, Mauritius menjadi koloni Prancis dan mereka melanjutkan produksi gula yang sudah dimulai oleh Belanda. Namun, pada tahun 1735, koloni ini hampir musnah karena bencana alam dan serangan dari penduduk asli. Pada tahun 1810, Mauritius diduduki oleh Inggris setelah kalah dalam pertempuran melawan pasukan Inggris. Selama masa penjajahan Inggris, Mauritius mengalami perkembangan yang pesat terutama dalam bidang ekonomi dan infrastruktur. Pada tahun 1835, Inggris menghapus sistem perbudakan dan mengimpor tenaga kerja dari India untuk bekerja di perkebunan gula. Hal ini menyebabkan terciptanya masyarakat multikultural yang kaya di Mauritius.

Pada awal abad ke-20, gerakan nasionalis mulai muncul di Mauritius dan pada tahun 1968, negara ini memperoleh kemerdekaan dari Inggris. Seychelles dan Zanzibar sempat bergabung dengan Mauritius setelah memperoleh kemerdekaan, namun keduanya memisahkan diri pada tahun 1976 dan 1963. Sejak itu, Mauritius telah mengalami pertumbuhan ekonomi yang pesat dan menjadi salah satu negara terkaya di Afrika. Namun, negara ini juga mengalami masalah seperti ketimpangan sosial dan masalah lingkungan akibat dari produksi gula yang berlebihan. Namun, pemerintah Mauritius terus berusaha untuk mengatasi masalah-masalah tersebut dan memperkuat posisi negara ini dalam perekonomian global.